TEKNOPRENER, SUMBER POTENSIAL INOVASI DAN PERTUMBUHAN EKONOMI


“Ada lima program utama yang sedang dilaksanakan dalam upaya pelaksanaan peran BPPT dalam pengembangan sistem inovasi di Indonesia, (1) Penguatan Sistem Inovasi Daerah, (2) Pengembangan Sistem Inovasi Tekno-Industri (Klaster Industri), (3) Pengembangan Jaringan Inovasi, (4) Pengembangan Teknoprener, yang  merupakan salah satu ujung tombak dalam upaya penguatan sistem inovasi karena teknoprener merupakan aktor penting dalam membawa perkembangan inovasi, difusi dan proses pembelajaran, dan dia akan terkait erat dengan perubahan budaya inovasi dalam suatu negara maupun daerah, terakhir (5) Audit Teknologi,” jelas Deputi Kepala Bidang Pengkajian Kebijakan Teknologi, Tatang A. Taufik.

Teknoprener itu sendiri, lanjut Tatang, tentu saja esensinya ingin diarahkan kepada beberapa sasaran, pertama adalah berkembangnya kelembagaan seperti pusat-pusat inovasi baik yang berbentuk Inkubator Bisnis Berbasis Teknologi maupun Penyedia Jasa Pengembangan Bisnis Inovatif. Kedua yaitu berkembangnya Perusahaan Pemula Inovatif (berbasis Teknologi) dan berkembangnya UMKM yang inovatif.

BPPT, menganggap pengembangan teknoprener ini penting karena menurut Tatang, dari jumlah ideal teknoprener 4%, Indonesia baru memiliki teknoprener berjumlah 0,24%. “Masih sangat jauh dari jumlah ideal tentu saja. Padahal Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), merupakan sumber potensial inovasi, pertumbuhan ekonomi dan pembangunan ekonomi yang inklusif dan berdimensi kewilayahan, dan modernisasi ekonomi daerah serta nasional,” jelas Tatang.

Hal senada diungkapkan oleh Kepala Balai Inkubator Teknologi (BIT) BPPT, Bambang S. Pujantiyo, bahwa jumlah teknoprener di Indonesia masih sangat jauh dari nilai ideal teknoprener sebuah negara. Dari 200 juta lebih penduduk Indonesia, hanya 53 juta yang menjadi pangusaha, itupun tidak semuanya merupakan pengusaha inovatif atau teknoprener.

Bahkan saat ini di Indonesia cenderung terjadi deindustrialisasi, dimana banyak industri yang seharusnya merupakan aset negara justru berpindah ke pengelolaan pihak swasta asing. “Karena itulah diperlukan adanya upaya menciptakan teknoprener di Indonesia untuk mencegah deindustrialisasi tersebut,” jelas Bambang.

“Melalui lembaga seperti Balai Inkubator Teknologi dan PI UMKM yang berperan sebagai intermediator dapat menciptakan teknoprener. Lembaga intermediator inilah yang nantinya dapat menjadikan invensi atau hasil penelitian dapat digunakan di industri menjadi sebuah inovasi,” lanjutnya.

Dengan proses inkubasi yang dilakukan, BIT telah menghasilkan teknoprener-teknoprener baru dengan produk seperti inkubator bayi dan mesin pembuat nano partikel. “Di 2011 ini, ada delapan tenant yang sedang diinkubasi oleh BIT, diantaranya yaitu kantong aspal, partikel nano untuk kebutuhan industri dan silent genset. Diharapkan tenant-tenant ini nantinya dapat berkembang menjadi teknoprener handal yang dapat berkontribusi pada peningkatan perekonomian Indonesia,” jelas Bambang.

“Diharapkan dengan adanya program pengembangan teknoprener ini, dapat meningkatkan kemampuan dan kinerja kreativitas-keinovasian, difusi dan pembelajaran di Indonesia. Yang kesemuanya dilakukan secara bersistem dalam konteks meso-mikro pengembangan kelembagaan PI UMKM dan UMKM inovatif dalam kerangka sistem inovasi sebagai bagian integral pembangunan,” tegas Tatang.

Tentang admin

website atau blog Bappeda Kabupaten Lombok Barat
Pos ini dipublikasikan di Berita Umum, Iptek. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s